Architecture

Satu Rumah Satu Pohon, Sebuah Alternatif Solusi Menjaga Sumber Air

Upaya menjaga sumber kehidupan, yakni air, dapat dimulai dari rumah yang kita tinggali. Bagi kita yang memiliki rumah tapak, sudah saatnya menanam minimal satu pohon di halaman rumah. Rumah merupakan tempat kehidupan manusia, oleh sebab itu sudah saatnya kita memulai penjagaan air dari tempat tinggal kita sendiri.

Mengapa menanam pohon di rumah?

Secara tidak langsung pohon membantu tanah dalam proses penyerapan air. “Pohon beserta ekosistemnya memiliki lapisan tajuk yang berstrata, serta ekosistem lantai hutan (serasah, tanaman bawah dan lapisan humus), akan kondusif bagi air hujan untuk meresap ke dalam lapisan tanah”. (sumber: www.forestdigest.com). Jika upaya ini dilakukan secara massal, maka keberadaan air di bawah permukaan akan terlindungi. Terlebih di kota besar seperti Jakarta di mana keberadaan resapan air sangat minim. Sehingga hal ini harus menjadi perhatian masing-masing keluarga.

 

Gambar Lantai Hutan (sumber: mongabay.co.id)

Kekeringan di musim kemarau sudah sering kami alami. Meskipun kekeringan tersebut tidak terjadi setiap tahun, namun volume air di musim kemarau relatif sedikit. Bahkan, sudah beberapa kali kami mengalami peristiwa di mana para tetangga meminta air dari sumur kami. Meski jarak rumah kami berdekatan, tapi nyatanya, volume sumber air yang kami miliki berbeda.

Pohon besar faktanya mampu menyimpan air tanah dengan konsisten. Ini lah yang terjadi pada kondisi di rumah kami. Sudah lebih dari 20 tahun, kami memiliki setidaknya tiga pohon besar di rumah.

Konsumsi air tanah di DKI Jakarta masih tinggi (sumber: statistik.jakarta.go.id). Tidak terkecuali di tempat tinggal saya, salah satu wilayah di pinggiran Jakarta, masyarakatnya rata-rata menggunakan sumber air tanah untuk keperluan hidupnya.

Permukiman di kota besar memiliki kecenderungan padat penduduk. Lahan yang tersedia terbatas, sedangkan jumlah angka penduduknya tinggi. Hal ini menyebabkan masyarakat lebih memaksimalkan lahan sebagai area terbangun. Alih-alih menyediakan sebagian lahannya sebagai area tumbuh tanaman.

Di satu sisi, pemerintah menetapkan peraturan tata ruang yang membatasi persentase area terbangun pada suatu lahan. Hal tersebut menunjukan usaha pemerintah dalam menyeimbangkan lingkungan alami dan lingkungan buatan. Walaupun antara peraturan yang telah dibuat belum sejalan dengan kenyataan di lapangan.

Tips menanam pohon pada lahan terbatas

Ruang tumbuh pohon harus menjadi perhatian utama dalam menanam pohon. Fungsinya agar pohon dapat tumbuh dengan normal. Oleh sebab itu, pilihlah pohon yang ukurannya cukup dengan ukuran lahan yang kita miliki. Ukuran pohon yang dimaksud adalah ukuran masa dewasa.

 

Gambar: Zona akar (Sumber: Rully dalam webinar GBCI)

Akar pohon tumbuh ke samping bukan ke bawah (dalam). Bentangan akar pohon kurang lebih sama dengan bentangan batang pohon. Akar harus cukup air dan oksigen agar pohon dapat berfungsi optimal. Oleh sebab itu, ruang tumbuh akar harus mampu menyerap air dan udara ke dalam akar.

 

Ruang akar tanaman dengan penutup tree grate (sumber: www.ironsmith.cc)

Jika anda memiliki lahan 3×3 m², maka pilihlah pohon dengan bentangan ramping seperti pucuk merah, glodogan tiang atau sapu tangan. Berbeda jika anda memiliki luas halaman lebih dari 10 m², bisa memilih pohon dengan bentangan lebih lebar atau memilih jenis pohon buah.

Ada baiknya anda merawat pohon secara rutin dengan memangkas batangnya. Hal ini agar tanaman tumbuh sehat serta tidak mengganggu area terbangun atau rumah. Sejatinya pohon, walaupun jenis pohon kecil, akan terus berkembang sepanjang hidupnya.

Menanam satu pohon satu rumah akan berbuah hasil optimal dalam mempertahankan sumber air tanah jika dilakukan dengan prosedur menanam yang tepat. Di samping itu, kesadaran bersama dari setiap rumah tangga dalam menyediakan lahan tumbuh pohon akan menentukan pula dalam keberhasilan misi ini.

 

 

Saya sudah berbagi pengalaman soal perubahan iklim. Anda juga bisa berbagi dengan mengikuti lomba blog “Perubahan Iklim” yang diselenggarakan KBR (Kantor Berita Radio) dan Ibu-Ibu Doyan Nulis (IIDN). Syaratnya, bisa Anda lihat di sini 

2 Komentar

  • haniwidiatmoko.com

    Ide bagus ini. Coba diterapkan di kompleks saya. Kan jadi rindang. Sayangnya orang cenderung melapis halaman dng semen. Engga ada resapan air lagi…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *