Architecture

Syarat Pengoperasian AC (Air Conditioning) Di Masa Pandemi

Berdasarkan hasil temuan di lapangan bahwa penyebaran SARS-CoV-2 melalui udara, khususnya di dalam ruang tertutup, cukup mungkin terjadi. Hasil studi kasus penyebaran virus pada sebuah restoran yang ber AC di Guangzhau, menunjukan kalau penyebaran droplet bukan terjadi karena dorongan kipas mesin AC. Studi lanjut menyimpulkan bahwa di restoran tersebut, saat AC dinyalakan, sangat kurang pertukaran udara. Exhaust fan tidak dijalankan ketika AC beroperasi. Oleh karena itu, belajar dari kasus tersebut, para praktisi di bidang bangunan membuat syarat pengoperasian AC  di masa pandemi corona.

 

Simulasi Penyebaran Virus Di Restoran Guangzhau, Cina (sumber: kinerja.org)

 

Penggunaan AC pada musim pandemi diperbolehkan dengan syarat filtrasi dan ventilasi wajib dijalankan dengan baik bersamaan dengan nyalanya AC. Filtrasi atau penyaringan berfungsi menyedot debu, kuman bahkan bakteri. Selain itu, penyaring udara juga mampu memproduksi kembali udara bersih ke dalam ruangan. Mesin penyaring udara terpisah dengan sistem mesin AC. Syarat ini harus dijalankan agar laju penyebaran dan konsentrasi virus dapat dikontrol. 

 

Sedangkan ventilasi adalah proses pertukaran udara dalam ruangan. Pada sistem AC sentral, ventilasi sudah terpasang di dalam sistem AC. Sedangkan pada AC split, umumnya AC untuk rumah tinggal, ventilasi tidak terpasang langsung di dalam produknya. Oleh sebab itu dibutuhkan bukaan langsung seperti jendela, lubang udara atau minimal terdapat exhaust fan (kipas penghisap) sebagai ventilasi. Maka dari itu syarat umum dalam mengoperasikan AC di masa pandemi adalah menyalakan mesin AC bersamaan dengan menjalankan fungsi ventilasi serta penyaring udara. 

Pengoperasian AC sentral

AC sentral umumnya digunakan untuk bangunan yang kompleks seperti gedung pencakar langit, mall, rumah sakit dan lain-lain. Ketiadaan pendingin udara (di negara tropis) di dalam bangunan yang kompleks dapat menyebabkan heat stress atau tekanan panas. Paparan panas yang amat sangat kabarnya dapat menyebabkan imunitas tubuh menurun. Sehingga tidak direkomendasikan mematikan AC pada bangunan kompleks seperti ini.

 

Gambar 1. Diagram Rekomendasi Pengoperasian AC Sentral

 

Secara lebih khusus, syarat yang disarankan sebelum menyalakan AC adalah ruangan harus mendapat aliran udara luar selama dua jam sebelum dan sesudah jam operasional berlangsung. Begitu pula saat mesin AC sedang dinyalakan, pertukaran udara harus tetap berjalan. Hal ini untuk menghindari sirkulasi udara yang terus berputar tanpa adanya pergantian udara. Tidak lupa mesin penyaring udara dinyalakan agar kualitas udara dapat dikontrol.

Pengoperasian AC Split

AC split masih banyak digunakan pada ruang kantor, contohnya pada bangunan ruko. Prinsip pengoperasian AC split saat musim corona sama seperti pada AC tipe sentral. Dua jam sebelum dan sesudah jam kantor, ventilasi harus diaktifkan. 

 

Gambar 2. Diagram Rekomendasi Pengoperasian AC Split
Gambar 2. Diagram Rekomendasi Pengoperasian AC Split

 

Namun, jika ruangan memiliki ventilasi alami, sebaiknya lebih mengoptimalkan fungsi bukaan tersebut dibanding harus menyalakan mesin AC. Ventilasi alami yang baik adalah bukaan yang dipasang pada setiap sisi bangunan sehingga menghasilkan aliran udara silang atau cross ventilation. Ventilasi alami dapat berupa jendela, pintu, lubang kisi-kisi  atau jenis bukaan alami lainnya (gambar 2).

 

Sayangnya tidak semua bangunan sederhana, baik rumah maupun ruko, memiliki cross ventilation. Oleh sebab itu solusinya adalah tetap menjalankan mesin AC dengan catatan pintu atau jendela di buka pada saat AC dinyalakan. Namun solusi ini menimbulkan kontra, sebab energi yang digunakan cenderung lebih besar jika ruangan tidak ditutup dengan rapat. Namun hal ini harus tetap dilakukan agar sirkulasi udara dapat tergantikan dengan udara luar.

Back To Nature

Menurut kesimpulan saya pribadi, pengkondisian udara pada masa pandemi corona memang lebih rentan. Hal ini karena sistem pemasangan AC mengharuskan ruang tertutup rapat sehingga aliran fresh air atau udara luar sangat terbatas. Padahal di dalam kasus pandemi ini justru dengan adanya aliran fresh air konsentrasi virus dapat menurun. 

 

Syarat Pengoperasian AC di masa pandemi yang telah saya jabarkan adalah solusi sementara yang dapat kita terapkan saat ini.  Para pakar masih terus mengkaji untuk bisa menciptakan ruang atau bangunan yang lebih sehat. Solusi atas persoalan ini sangat dibutuhkan karena 90% kegiatan manusia ada di dalam ruangan. Selain itu, tidak selamanya kita hanya mengandalkan lingkungan buatan, dalam hal ini udara buatan. Padahal sesungguhnya yang lebih manusia butuhkan adalah udara yang alami.

 

Mari kita set ulang kepekaan tubuh kita pada suhu udara alami. Sebab menurut hemat saya, tidak mungkin manusia tropis tidak tahan pada suhu udara tropis. Begitu pula dengan bayi-bayi yang baru lahir agar tidak dibiasakan pada suhu udara buatan. Akibat jika sering terpapar AC, anak kurang mampu beradaptasi dengan suhu udara alami. Sebab masa-masa awal kehidupan, disitu lah mereka men set suhu tubuh mereka. (sumber: Seminar GBCI-Green Building Council Indonesia).

 

Terkhusus untuk teman-teman yang masih menggunakan AC di rumah, sebaiknya off kan dulu AC nya. Setidaknya minimalkan jam penggunaannya, terlebih kalau jendela dan bukaan sudah lebih dari cukup untuk aliran udara. Bisa jadi pesan tersirat dari masa pandemi ini adalah kita disuruh untuk back to nature oleh Sang Pencipta. Pesan ini tentunya juga untuk diri saya pribadi. Dan alhamdulillah sampai saat ini saya tidak menggunakan AC sama sekali di rumah.  

 

Semoga kedepannya kita sama-sama bisa berkomitmen untuk menghirup udara yang alami. Oia, tulisan ini saya intisarikan dari beberapa webinar yang saya ikuti dan diselenggarakan oleh para ahli bangunan. Ok, sekian penjelasan saya, semoga bermanfaat!

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *